FITRI, HELNI (2023) ANALISIS KEWAJIBAN SEORANG AYAH TERHADAP ANAK PASCA PUTUSAN PENGADILAN AGAMA MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM (Studi Kasus : No 383/Pdt.G/2015/PA.P.Pg). Sarjana thesis, Universitas Pasir Pengaraian.
|
Text
COVER.pdf Download (704kB) |
|
|
Text
BAB 1 2 3.pdf Download (463kB) |
|
|
Text
BAB 4 5.pdf Restricted to Repository staff only Download (3MB) | Request a copy |
Abstract
Keluarga merupakan salah satu unit kecil yang terdiri dari ibu dan bapak serta anak-anak ataupun tambah keluarga lainnya seperti paman ataupun bibi, kakek dan nenek, sedangkan menurut Bailon dan Maglaya keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena hubungan darah, perkawinan dana dopsi, dalam suatu rumah tangga berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya. Keluarga harmonis adalah suatu kondisi dimana di dalam keluarga terdapat sikap saling menghormati dan menghargai, saling pengertian terdapat kasih sayang antar anggota, terciptanya rasa bahagia (merasa puas terhadap seluruh keadaan dan keberadaan diri), serta memiliki komunikasi dan mampu bekerjasama dengan baik antar anggota keluarga2. Pisah atau perceraian adalah terputusnya hubungan atau berakhirnya hubungan pernikahan atau keluarga anatara orang tua, ayah dan ibu dalam menjalakan rumah tangga. pasca percerain perempuan (ibu) dan anak memiliki hak yang diatur dalam undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan, pasal 41, undang-undang ini telah direvisi menjadi undang-undang 16 Tahun 2019, yang menjelaskan bahwa ayah bertanggung jawab atas semua biaya pemiliharan dan pendidikan yang di perlukan anak itu, bila mana bapak dalam kenyataannya tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, maka pengadilan dapat menuntut bahwa ibu ikut memikul biaya. Pembahasan mengenai kewjiban seorang ayah terhadap anak pasca putusan pengadilan agama menurut kompelasi hukum Islam yang menjelaskan tentang hak dan kewajiban orantua. kesimpulan dimaksudkan sebagai hasil akhir dari pembahasan penelitian, dan saran berisikan beberapa ungkapan/anjuran baik kepada masyarakat yang mengalami kasus yang serupa terkait maupun bagi peneliti selajutnya untuk perbaikan dimasa yang akan datang. untuk ayah yang telah putusnya hubungan suami istri atau pun bercerai janganlah enggan memberikan nafkah kepada anak-anaknya karena itu merupakan kewajiban yang harus dilakukan. memberikan nafkah kepada anak-anaknya merupakan kewaiban sampai anak-anaknya dewasa dan mampu mengurus diri sendiri.
| Item Type: | Thesis (Sarjana) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Perceraian,KewajibanOrangTua,Anak,HukumIslam |
| Subjects: | Dewey decimal Classification Subject Areas > 300 Ilmu Sosial > 340 - 349 Ilmu Hukum |
| Divisions: | Fakultas Hukum > Program Studi Ilmu Hukum |
| Depositing User: | Pustaka - - |
| Date Deposited: | 05 Mar 2026 07:20 |
| Last Modified: | 05 Mar 2026 07:20 |
| URI: | http://repository.upp.ac.id/id/eprint/3432 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
